sebuah cerita harimau berjudul KEMARAU
KEMARAU
dibuat oleh : Oktrit-ssi
Di sebuah hutan hidup sepasang ibu dan anak harimau. Mereka terpisah dari habitat nya. Jauh dari keluarga, kerabat, dan komunitas nya. Seorang ibu harimau itu tahu bahwa anaknya mempunyai ciri khas yang berbeda. Dia ter lahir albino. Harimau putih langka yang dicari. Dia akan tumbuh cantik dan banyak yang menginginkannya. Ibu itu membawa pergi anaknya karena komunitas nya ingin menyerahkan anak itu ke manusia.
“Anakmu akan baik-baik saja di sana”, kata salah satu dari kawanan harimau.
“Benar, mereka akan merawat anakmu dengan penuh kasih sayang”, sahut harimau yang lain.
Namun sang ibu tetap tidak mau menyerahkan anaknya. Ibu itu berkata, “tidak ada yang menandingi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.” Kemudian ia pergi bersama anaknya sampai jauh dari jangkauan manusia dan komunitas nya.
Hari demi hari berlalu. Anak harimau itu semakin besar. Sudah bisa berlari dan memanjat pohon dengan cakar nya. Dari atas pohon ia melihat ada tumpukan dedaunan yang membuatnya penasaran ingin membukanya. Saat ia akan menyentuh daun itu di tepis oleh ibunya.
“Kenapa?”, tanya anaknya.
“Kamu bahkan tidak izin dulu kepada ibu”
Anak itu menundukkan kepala nya dan meminta maaf. Kemudian mereka duduk di bawah pohon rindang. Ibu itu memandangi anaknya yang semakin hari makin tumbuh besar. Lalu ia menjilati anaknya pertanda kasih sayangnya.
“Nak, tugas ibu saat ini adalah menjagamu dari para hewan dan manusia jahat. Ibu akan mencarikan komunitas yang sama sepertimu agar kalian dapat saling melindungi.”
“Ibu, aku ingin tetap bersama ibu sampai kapan pun.”
“Tidak, nak. Bersama ibu kamu tidak akan aman.”
Setiap hari ibu harimau membawakan makanan untuk bertahan hidup. Biasanya seperti bangkai rusa yang bisa dimakan habis sampai tiga hari. Sambil menunggu ibunya pulang membawa makanan, anak harimau selalu bermain sendiri dengan tumbuhan sekitar. Setiap kali ia memanjat pohon pandangannya selalu tertuju ke arah tumpukan dedaunan itu. Melihat ibunya selalu pulang dengan luka yang ada di badan membuat anak harimau itu iba dan ingin juga membantu ibunya. Tapi ia mengerti hal itu akan membuat ibunya menjadi khawatir dan akan mengancam kedua nyawa mereka.
Satu hari ibu harimau menyampaikan sebuah pesan untuk anaknya.
“Sebentar lagi musim kemarau. Tumpukan daun itu adalah penyelamat kita nanti. Jadi jangan kamu buka sampai kemarau tiba.”
Anak harimau itu mengangguk. Kemudian mereka menyantap makanan yang sudah di dapatkan.
“Apakah saat kemarau nanti ibu akan tetap pergi mencari makanan?”, tanya anak harimau.
Ibu harimau menggelengkan kepalanya dan berkata, “musim kemarau adalah di mana hewan-hewan akan saling memangsa kerabatnya karena mereka kesulitan mencari makanan.”
Anak harimau itu masih belum paham dengan perkataan ibunya. Kemudian ia bertanya lagi, “kalau begitu kita juga akan mati kelaparan bukan?”
Ibu harimau itu tersenyum dan menjawab, “kita punya penyelamat. Tetapi kalau penyelamat itu hilang berarti ibu tidak akan pulang.”
Ibu harimau semakin tua, ia semakin tidak kuat untuk bertarung dengan hewan lain. Ia tahu bahwa musim kemarau tiba nanti adalah hal yang paling ia benci. Ia pernah melihat ayahnya memakan adiknya sendiri karena sang adik kalah dalam pertempuran mencari makanan dan menjadi bangkai. Selain itu, ia tidak mau meninggalkan anaknya sendirian. Dia harus bertahan hidup.
Seminggu sebelum kemarau tiba, saat mencari makanan ibu harimau melihat sekumpulan harimau putih seperti anaknya. Ia lalu mengikuti salah satu dari mereka. Sampai di satu tempat ibu harimau terpana dan senang karena menemukan komunitas harimau seperti anaknya. Kemudian ia bergegas kembali ke rumah untuk menemui anaknya dan membawakan makanan. Anaknya menyambut dengan gembira seperti biasa. Setelah selesai menyantap makanan, sang anak bertanya kepada ibunya.
“Apakah ibu tidak lelah 3 hari sekali mencari makanan?”
“Tentu saja lelah, apalagi ibu sudah tidak se tangguh dulu”
“Bagaimana kalau aku yang menggantikan mu, bu?”
“Belum saatnya.”
Ketika malam hari, ibu harimau menatap ke langit dan berdoa agar anaknya dapat segera di per temukan dengan kawanan nya. Anak harimau yang terbangun mendekati ibunya.
“Ibu kenapa aku berwarna putih?”
“Karena ayahmu dulu juga seperti mu.”
“Lalu di mana ayah sekarang, bu?”
“Ia dibawa oleh manusia dan tidak kembali.”
Ibu harimau memandangi anaknya. Berharap agar nasib anaknya tidak seperti suaminya. Anak harimau itu mendekat kepada ibunya dan memeluk ibunya.
“Ibu tadi melihat kawanan mu. Sebentar lagi kamu akan bergabung dengan mereka.”
“Aku tidak mau, bu. Aku mau sama ibu.”
“Tapi tidak aman, nak.”
“Sampai mati pun, aku tetap ikut ibu.”
Ibu harimau itu terdiam dan memeluk erat anaknya. Pilu yang dirasakannya selama ini kian memudar dan ia semakin yakin bahwa mereka akan lepas dari semua ini.
Musim kemarau telah tiba.
Setelah membuka matanya, anak harimau itu kaget karena ibunya tidak ada. Dia mencari sekeliling tetap tidak ada. Ini sudah musim kemarau tapi ibu harimau tetap pergi mencari makan. Ia menunggu ibunya, duduk di bawah pohon rindang biasa ia dan ibunya menyantap makanan. Ia tidak bermain apa pun hari ini. Ia hanya menunggu ibunya pulang.
Sang ibu yang mencari makanan untuk bertahan hidup menangis dalam pertarungan. Ia gelisah setiap malam karena penyelamat yang ia maksud sudah tidak ada. Tapi ketika anaknya memeluknya rasa gelisah itu sirna. Ia yakin bahwa akan tetap terus bersama anaknya sampai kapan pun. Ia tidak perlu takut akan kekalahan dalam pertarungan di musim kemarau. Pada malam itu, ia berpesan lagi kepada anaknya, “saat kemarau nanti kamu harus lari ke arah utara. Di sana terdapat kawanan mu, nak. Kamu akan aman di sana. Dan bertahan hiduplah untuk ibu.”
Dalam pertarungan nya sang ibu kalah dan menjadi santapan untuk hewan lain. Anak harimau tetap menunggu sang ibu pulang. Ia ter sadar dengan kalimat yang diucapkan oleh ibunya semalam. Tetapi ia tidak mau pergi. Ia tetap menunggu ibunya. Dia menangis dan mengaum sepanjang hari sampai ia tidak punya tenaga dan tertidur selamanya.
“Ibu, maafkan aku, aku telah menghilangkan penyelamat itu.”
------S E L E S A I------
Komentar
Posting Komentar