I, Food, & You (Cerita Pendek)
...........
Hela nafasmu berat
Untaian kata tersusun
Detik – detik akan kau ucap
Nada yang menggetarkan
hatiku
Aku temanmu
Sedih akan kubantu
Bahagia akan kusuka
Tegarlah..
“terimakasih..”
Prok..prok..prok..prok...
Dia
adalah temanku yang pendiam dan misterius. Tunggu! Aku tidak tahu dia
temanku/aku temannya/entahlah. Karena kami hanya saling kenal.
“Angga?”
Aku
berjalan menuju arah meja guru, teman – temanku penuh ketegangan dan..
“aku remidi!”
“Oh.”
“kamu itu~”
“Ranti?”
“minggir. Namaku
dipanggil.”
“Aish!”, sambil ku garuk – garuk kepala yang tidak
gatal ini dengan kesal.
Istirahat,
aku mendekati Ranti yang duduk didepan kelas sedang baca novel.
“Kamu serius amat?”
Dengan
senyum sinis dia menolehkan pandangannya kepadaku dan hanya menjawab,
“Ya..”
Teman
– teman perempuan kelasku yang lain memanggil – manggil namaku yang membuatku
risih dan aku tetap cuek kepada mereka.
“Eh? Kamu mau kemana?”
“mau ke WC. Ikut?”
“oh... ya sudahlah.
Sanah!”
Hh!
Hampir aku gila karena setiap aku dekat dengan dia. Mungkin kami adalah
pasangan yang sama – sama aneh dan tidak ada keharmonisan. Tidak! Aku tidak
aneh.
Pada pulang sekolah kami selalu
bersama ke parkiran dengan jalan kaki langkah yang sedang, tapi dia bukan untuk
mengambil motor atau menebeng aku melainkan dia naik sepeda. Jujur, aku salut
terhadapnya, jika melihat dia dari jauh saat mengambil sepeda sampai
mengendarainya, dia terlihat bukan seorang yang sinis.
“hati – hati, duluan..”, sambil ku tepuk bahunya.
“Ya..”, dengan nada datar dan senyuman tak ikhlas.
Sesampainya Angga dirumah, dia langsung mengambil air
wudlu dan sholat ‘ashar. Setelah itu, dia langsung membaringkan badannya di
atas ranjang. Saat sedang memejamkan mata, tiba – tiba ponselnya bergetar. Dia
langsung membuka mata dan mengambil ponselnya. Saat dia membuka ponselnya
ternyata dia mendapat sms dari Ranti.
“wah,, tumben..”, ujar dia.
Beberapa
menit kemudian, Ranti membalas sms dari Angga.
Keesokannya,
Kami duduk bersama
di taman sekolah kami dan Ranti memulai curhatnya.
“Kamu pernah broken home?”
“Engga. Kok kamu tanya gitu Ran?”
“makanya dengerin dulu? Belum juga selesai curhatnya,
baru tanya – tanya. Ibaratkan kalo dalam lagu tuh intronya lah..”
“iya iya.. galak amat sih? Ehh? Kamu lagi nangis bisa
mikir sampe situ yah?”
“bisa lah.. emangnya kamu?”
“aku juga bisa.. nih yah~”
“udah lah.. nanti nggak selesai selesai. Jadi begini, aku
galau dan aku punya masalah.”
“ya trus?”
“udah itu..”
“Cuma itu? Ya ampun...”
Sambul menggaruk – nggaruk kepala yang lumayan gatal,
Angga meninggalkan Ranti sendirian di taman. Dia tidak habis pikir kenapa Ranti
begitu aneh. Saat masuk ke kelas, Angga kaget karena Ranti sudah lebih dulu
duduk di dalam kelas. Sebelum dia mendekati Ranti, Angga mengintip dari luar
jendela. Dia melihat Ranti yang sedang di ejek oleh teman – temannya karena
seseuatu hal. Ranti langsung menangis dan lari keluar kelas. Sementara Angga
masuk ke dalam kelas dan memukuli orang yang membuat Ranti menangis.
“Eh? Sekali lagi lo bikin Ranti nangis? Awas aja lo!”
“nggak usah sok pahlawan deh lo?”
“woy? Diem yah!”
Saat pukulan Angga akan melayang di wajah temannya, tiba
tiba datang Fio, orang yang sangat ngefans kepada Angga. Dia menelaan suasana
dan Angga langsung pergi mengejar Ranti.
“Angga? Angga? Kamu mau kemana?”
“biarin aja lah Fi.”
“diem nggak!”
Diluar kelas, tepatnya di taman yang tadi, datang Angga
yang perlahan mendekati Ranti yang sedang menangis.
Aku langsung duduk
disampingnya, aku tenangkan dia. Dan aku beri dia minum kesukaannya.
“Kamu kenapa teman?”
Ranti tetap diam dengan keadaan masih isak tangis dan
memegangi minuman yang diberi oleh Angga.
“iya udah deh.. tenangin dirimu dulu..”, sambil memasang headset yang tidak
tersambung ke ponsel maupun Ipod. Karena sekolahku tidak diperbolehkan membawa
barang elektronik kecuali kamera dan laptop.
“apa ini yang dirasakan oleh seorang gadis yang terlalu
polos?”
“maksudtnya?”
Angin yang
berhembus pelan dan hening membuat suasana saat itu menjadi sangat pas di
hatiku. Apalagi saat aku melihat muka Ranti yang hidungnya pesek dan matanya
sipit setelah menangis, ingin rasanya aku mencubit hidungnya.
“aku tidak tahu permasalahan apa antara ayah dan ibuku.
Sampai – sampai saat mereka bertengkar aku kena abunya. Sungguh sakit, sangat
sakit.”
“cupcupcup.. jagan nangis...”
“tapi aku bingung Angga..”
Melihat Ranti
menangis, aku langsung memeluknya dan mengusap air matanya.
“Sabar.. itu adalah takdir. Mungkin ada alasan lain
orangtuamu menyembunyikan dari kamu? Jangan berprasangka buruk dulu ya? Suka
nggak suka, mau nggak mau, hidup itu harus tetep dijalanin.”
“Makasih Ngga..”
“Iya..”
Ranti tersenyum dan dia mengusap air matanya. Lalu tak
lama Angga mengajak Ranti pulang sekolah makan bersama. Tadinya Ranti tidak mau
makan, tetapi dengan ketulusan Angga membujuk Ranti, akhirnya Rantipun mau.
“Di angkringan?”
“Yap!”
“Ih? Aku nggak mau. Nanti aku kenapa – kenapa lagi?”
“udah jangan ragu, di coba dulu..”
“Engga mau, aku pulang aja deh.”
“eh eh eh, tadi katanya mau? Ayo coba?”
“iya udah deh.”
Saat aku sedang
menikmati makanan kesukaanku, Ranti menulis sesuatu di meja tepatnya di bawah
piring makannya.
“I, Food, You.?”
“Ya..”
“maksudtnya?”
“di angkringan ini, makanan kesukaanmu yang kamu kenalkan
kepadaku akan selalu ku ingat.”
“terimakasih..”, sambil
ku cubit pipi tembemnya.
Keesokan harinya
adalah pelajaran seni. Dimana saat itu penilaian setiap group musik yang sudah
di bagi oleh guruku. Kelompoku sudah maju, kini giliran kelompok Ranti dan
kebetulan Ranti yang menyanyi. Tadinya, aku tidak percaya. Karena dia bicarapun
kadang – kadang, tapi ternyata dia punya kelebihan yang tersembunyi.
Tanah Airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai,
engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri ku
jalani
Yang masyhur permai dikata
orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalahku rasa senang
Tanahku tak kulupakan,
engkau ku banggakan
“terimakasih...”
Sambil berjalan ke tempat parkir untuk pulang sekolah,
Angga dan Ranti mengobrol dengan akrab. Hubungan pertemanan mereka lebih baik
dari sebelumnya.
“Wah.. suaramu bagus juga yah?”
“terimakasih.”
“Kamu itu... masih aja sinis?”
Tiba – tiba langkah Ranti berhenti. Dia menatap Angga,
Angga menjadi ketakutan dan dia tidak berani menatap Ranti. Tetapi dengan
senyum yang tidak biasa dan tatapan hangat Ranti berkata, “Terimakasih atas
pujiannya Angga...”. Angga langsung terkejut dan dia mengejar Ranti yang sudah
berjalan mendahului dia.
“Ranti tunggu.”
“Ya?”
“kamu cantik.”
“hah?”
“aku sayang kamu..”
“apah? Ulangi?!”
“engga ah.”, aku
langsung menaiki sepeda Ranti dan pergi kelaur sekolah. Ranti yang kebingungan
langsung mengejarku. Dengan sekuat tenaga dia menahan laju sepeda dan akupun
terjatuh. Dia memang perempuan yang kuat. Tetapi, dia tetap menolongku walaupun
anak lain menertawakanku. Dia memang temanku yang baik. Kamipun berjalan ke
arah jalan besar. Ranti menuntun sepedanya dan aku memasukan tanganku ke
kantung celana. Tiba – tiba dia berhenti dan menarik tasku.
“Perasaanku buruk.”
“Ah.. Perasaanmu aja.”
“kamu hati – hati. Jangan menyeberang jalan dulu. Bisa?”
“hah? Kamu itu horor banget sih?”
“heeee??? Di bilangin koh? Ya udah aku pulang dulu.”
Aku mengabaikan
perkataan Ranti. Aku teringat pesan ibu untuk membeli jus di seberang
sekolahku. Tanpa pikir panjang aku langsung menyeberang jalan. Aku sudah
menengok kanan kiri. 4 langkah sudah aku berjalan, terdengar teriakan keras
dari seseorang dan setelah itu aku tidak sadar apa – apa.
Ranti menunggu kabar keadaan Angga dengan penuh
kekhawatiran dan beserta kedua orang tua Angga.
“Dok, bagaimana keadaan anak saya?”
“Anak ibu baik, hanya saja terjadi benturan keras yang mengakibatkan
anak ibu harus kehilangan ingatannya sementara.”
“apa? Serius, Dok? Dokter jangan bohong?”, panik Ranti.
“apa yang harus kami lakukan, Dok?”
“ibu dan bapak hanya perlu menuntun pelan – pelan untuk
mengingat kembali ingatannya.”
“terimaksih Dok.”
Ranti langsung mendekati Angga dan dia berkata, “Angga?
Kamu ingat aku?”
“siapa kamu?”
Ibu Angga langsung menangis dan hati Ranti terpukul
hancur berkeping – keping. Dia sudah tak bisa menahan isak tanagis, dia
langsung pergi keluar ruangan dan pulang kerumah.
“Ranti, Ranti....???”, panggil ibu Angga.
“itu tadi siapa bu?”
“teman setiamu, masa kamu nggak inget?”
Angga hanya menggeleng kepala. Ibu Angga tersenyum dan
mengusap kepala Angga. Sesampainya dirumah, Ranti langsung melempar tasnya dan
membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia memejamkan mata sejenak dan dia membuka
mata perlahan lalu dia bangun dan duduk sila di atas ranjang. Dia langsung
bergegas untuk mandi dan sholat. Setelah itu dia langsung pergi kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit.
“Hai Angga?”
“kamu? Ada apa kamu kesini?”
“ih? Sok nggak kenal. Kamu lagi ngapain?”
“lagi baca buku.”
“Oh... kamu lagi ngapain?”
“lagi baca buku, sekali lagi kamu tanya~”
“emm? Kamu lagi ngapain?”
“heh heh heh! Tau aku lagi baca buku kan? Kamu punya mata
dan telinga kan? (Ranti mengangguk) bagus! Diam dan nggak usah banyak omong
atau~”
“kamu tau kenapa aku seperti itu?”
“pergi.”
“saat aku sedang diam kamu selalu tanya kepadaku ‘kamu
lagi ngapain?’ dan pertanyaan itu berkali – kali kamu lontarkan. Aku tetap diam
dan tersenyum. Tapi kamu gigih bertanya agar aku menjawab. Sekarang, aku ingin
seperti itu? Tak ingatkah kamu, Ngga?”
“pergi.”
“kamu adalah teman terbaikku. Tolong ingat kembali.”
“pergi!!!”
Dengan keadaan bertahan Ranti menangis dan dia tetap
mengatakan sesuatu kepada Angga.
“aku minta maaf. Aku tidak akan pergi sebelum kamu
memaafkanku.”
Angga masih terdiam dan Ranti langsung bersimpuh dengan
lemas dan isak tangis dia berkata, “aku minta maaf. Maafkan aku. Baik aku akan
pergi.”
Tiba – tiba Angga menahan kepergian Ranti, dia memegang
tangan Ranti. Dia memaafkan Ranti dan meminta Ranti untuk bersamanya sampai jam
9 malam nanti. Setelah mengahabiskan waktu bersama dengan canda dan tawa sampai
Angga tertidur, Rantipun pulang. Sesampainya di rumah.
“makan dulu sayang?”, suara ibu Ranti sambil mengambilkan
makanan untuk Ranti.
“iya bu..”
Saat sedang makan dengan ditemani oleh bapak dan ibu
Ranti, tiba – tiba Ranti pingsan. Bapak Ranti yang melihat langsung membawa
Ranti kerumah sakit.
“dua hari sudah kamu nggak kesini? Kamu kemana?”
“ngomong sama siapa?”
“ehh ayah. Itu temenku, nggak kesini – kesini.”
“coba kamu telefon deh?”
Angga langsung menelefon Ranti dan,
“halo?”
“hey? Apa kabar? Kamu nggak kesini?”
“baik. Aku... emm? Gimana kalo nanti kita ketemuan di
angkringan depan sekolah?”
“hah?”
“aku tunggu.”
Sudah stand by Angga menunggu Ranti di depan angkringan.
Tak lama Rantipun datang juga, dia langsung mengajak Angga untuk makan disana
dan memesan makanan kesukaannya.
“lhoh? Kamu kok tahu?”
“Jelas.”
“ih? Sinis.”
“biarin.”
Saat kami sedang
menikmati makanan kesukaanku di angkringan, arah padangku tertuju ke meja
dibawah piring makan Ranti. Perlahan – lahan aku baca dan sedikit demi sedikit
aku mengingat sesuatu, sesuatu yang seakan – akan flashback ke masa lalu.
Ranti, kamu memang tidak bohong.
“I, Food, You.?”
“Yap!”
“A&R?”
“he’eh.”
“bukannya ini? Ya. Aku ingat. Dulu aku mengajakmu kesini.
Terimakasih karena kamu masih mengingat makanan kesukaanku.”
Saat Angga menoleh, tiba – tiba Ranti sudah tidak ada dan dia kebingungan. Angga mencari kesana – kemari dan tak kunjung ketemu. Akhirnya dia kembali kerumah sakit dan dia melihat ibunya menangis. Angga langsung mengambil surat yang ada di tangan ibunya. Dia duduk disebelah ibunya dan dia membaca surat tersebut.
To : Angga
Hay? Bagaimana dengan makanannya?
Apakah kau suka? Maaf aku tidak bisa menemanimu sampai selesai. Aku harus pergi
ke Singapura untuk beberapa saat. Emm?? Kabari aku kalau ada apa – apa ya?
Semoga lekas sembuh.
I, Food, You Angga...
Ttd
Ranti
Tanpa pikir panjang Angga langsung lari mengejar Ranti.
Dia melihat pesawat sudah akan lepas landas, Angga langsung mengejar mati –
matian. Dan dia gagal. Dia duduk lemas dan menangis dengan memeluk surat dari
Ranti. Dia sangat menyesalinya.
“Ranti.... jangan tinggalkan aku.... Ranti..”
Tiba – tiba
seseorang menepuk bahuku dari belakang yang membuat isak tangisku berhenti
sejenak walau air mata masih menetes.
“kenapa kamu berlari? Aku lelah mengejarmu.”
---THE
END ---
sekian cerita pendek dari saya, apabila banyak kekurangan mohon maaf dan mohon komentarnya yaa... terimakasih ^^
Komentar
Posting Komentar