Cerpen Tema Pendidikan



Lengan Bajumu Singsingkan untuk Negara, Cinta Budaya...
KARAKTER PENERUS BANGSA!


            Pada suatu hari, gadis kecil yang sudah menginjak remaja sekitar umur 14 tahun terbangun dari tempat tidurnya. Dirapihkannya tempat tidur itu dan dia bergegas mandi dan persiapan untuk berangkat sekolah. Setelah semua sudah siap, tidak lupa darinya adalah meminum susu yang biasa dibuatkan oleh ibunya setiap pagi. Di ikat kencang tali sepatunya dengan semangat penuh senyum dan tak lupa salam kepada ibunya dia berangkat sekolah.
            Dia duduk di bangku SMA tepatnya kelas X. Ya.. dengan usia yang masih belia dia sudah SMA karena dulu dia tidak TK terlebih dahulu. Namanya adalah Nila Eka Saputri. Panggil saja dia Putri karena semua orang memanggilnya dengan nama tersebut. Gadis cilik yang imut dan ceria itu adalah anak yang paling aneh di kelasnya. Sampai – sampai teman sekelasnya heran karena tingkahnya. Tetapi, dibalik sikapnya itu ada sifat kasih sayang, setia kawan, dan penolong. Dia juga tidak suka marah, malah dia lebih suka tersenyum, teryawa dan menghibur temannya. Dia tidak ingin mempunyai banyak musuh di bangku SMA ini.
            Pada waktu Putri masih duduk di bangku SMP, banyak teman yang tidak suka kepadanya. Karena sifat dan tingkahnya. Ups! Bukan buruk, tetapi karena lemah lembut dan sopan santunnya yang membuat semua guru memujinya. Tak heran, dengan kecantikan yang dimiliki oleh Putri hampir semua siswa laki – laki menyukainnya. Selain itu, dia juga mempunyai bakat yang banyak. Seperti menyanyi, menari, melukis, memainkan alat musik, berakting dan masih banyak lagi. Gayanya pun berbeda dari yang lain, dia tergolong anak yang humoris dan cengeng. Pakainnya sopan tetapi berkarakter. Itu semua yang membuat dia berbeda dari yang lain.
***
            Putri, sebagai seorang anak yang hidup di keluarga besar (ayahnya memiliki tiga anak) merasakan himpitan ekonomi yang cukup parah. Ayah Putri hanya guru SD. Banyak guru SD yang menyekolahkan anaknya sampai sarjana, tetapi mereka mempunyai alternatif penghasilahan sedangkan ayah Putri tidak. Karena gaji yang minim yang harus menghidupi satu istri dan tiga anak, membuat kedua orang tuanya selalu bertengkar. Apalagi ayah Putri yang akhirnya terjun ke dunia bisnis karena tidak ada pengalaman sama sekali membuat ayahnya selalu gagal dan gagal.
            “Kalau begini caranya, sebaiknya kembalikan saja aku ke orang tuaku!”, marah ibu Putri.
            “Ya sudah. Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!”, jawab ayah Putri dengan menghentak.
            Praaaang... praaaaang...!
            Suara teriakan yang disertai dengan dibantingnya berbagai barang – barang pecah belah itu mengagetkan Putri. Saat itu juga ia terlonjak dari tempat tidurnya, sebuah dipan reyot yang ia tiduri bersama adik – adiknya. Sesaat ia termangu, mendengarkan suara – suara bertekanan tinggi tersebut.
            “Sudah ku bilang... kalau mau pulang, pulang saja! Aku juga sudah bosan terus menerus menerima makianmu! Apa kau pikir aku ini kuli yang harus terus – menerus memeras keringat buat menyuapimu!”
            “Kau laki – laki tak bertanggungjawab!”
            “Apa kau bilang? Aku sudah berusaha keras untuk bisa cari duit, tetapi nasib kita memang selalu sia!”
            “Apa? Berusaha keras? Sedang pekerjaanmu sehari – hari cuma ngabis – abisin duit yang sudah ada....”
            “Daripada kamu, bisanya cuma menggosip. Kalau tahu suami keteteran, ikut dan cari duit, dong! Jangan bisanya cuma mencela!”
            “Aku ini perempuan, Pak! Tanggungjawab mencari nafkah itu ada apda laki – laki, pada suami!”
            Malam beranjak larut, dan pertengkaran itu semakin memuncak, sengit. Semakin panas. Isak tangis bercampur dengan makian, bentakan, serta suara riuh barang – barang yang melayang membentur sudut – dusut keras.
            Tak sadar, setetes demi setetes air mata membasahi pipi gadis kecil yang berusia 14 tahun itu. Untuk kesekian kalinya, dua orang yang paling ia cintai, ayah dan ibunya, bertengkar. Permasalahannya sama, sosial ekonomi.
            Yah... mereka memang hidup di bawah tekanan kemiskinan. Hal yang sangat lumrah, jika kefakiran dekat dengan kekafiran. Memang, kedua orang tua Putri masih tetap berada dalam naungan akidah yang lurus. Namun, perang dunia yang setiap hari tergelar suatu saat bisa menjadi sebuah jalan tol menuju kufukuran.
Tangis Putri berhenti ketika sebuah tangan kecil milik adiknya menggamit bahunya. “Mbak, nggak usah nangis! Nggak ada gunanya.”
            Putri tertegun. Sesaat ia menoleh kepada sosok berusia 11 tahun yang tiba – tiba terlihat begitu bijak itu.
            “Bapak sama Ibu bertengkar karena miskin. Karena itu kita tak bolah menjadi orang miskin. Caranya, kita harus jadi orang pintar,” ujar adik Putri. “Orang pintar akan mudah mencari uang, nggak seperti orang bodoh!”
            “Maka dari itu, ingat pesan kakak ‘Lengan bajumu singsingkan untuk negara, cinta budaya Karakter Penesur Bangsa’!”dengan semangat Putri membari nasihat kepada adik – adiknya.
            Ucapan itu membuat Putri teringat, bahwa ia memiliki setumpuk PR yang belum ia kerjakan. Cepat ia pun meraih lampu teplok yang menerangi kamar, membawanya ke meja kecil yang sebagian tertutup oleh tumpukan buku – buku pelajaran. Ia belajar keras saat kedua orang tuanya bertengkar hebat.
            Melihat sang kakak begitu tekun dengan pelajarannya, adik Putri pun beranjak, melakukan hal yang sama.
***
            Pagi hari, di tapakannya langkah kaki menuju ke sekolah, Putri yang menaiki sepeda dengan memboncengkan 2 adiknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP harus melewati jembatan yang rapuh dan membahayakan sekali. Namun, hanya demi untuk meraih sebuah ilmu dan cita – cita dia beranikan diri untuk mengambil resiko itu.
            Setiap hari setiap pagi dan sore Putri melewati jembatan itu, karena jembatan itulah satu – satunya alternatif menuju masa depan cerah. Tanpa memikirkan ekonomi yang begitu sulit untuk sekolah, Putri dengan semangat memerapkan 4S (Senyum, Sapa, Salam, Salaman) yang di ajarkan di sekolahnya. Pakaian yang begitu rapih membuat guru tertegun. Ada anak yang sedisiplin Putri padahal dia anak orang  kurang mampu.
            Teman – temannnya sering mengolok – oloknya. Putri tetap tegar dan mengabaikan itu. Karena Putri sadar, bahwa diluar sana ada yang seperti dia bahkan lebih parah lagi. Usai pulang sekolah, Putri dan adik – adiknya melewati jembatan itu lagi. Teringat pada sebuah kisah yang ia baca di buku, ada seorang yang ekonominya terbatas tetapi orang itu dapat menjadi dokter bahkan milioner yang sukses. Putri langsung bergegas membawa adiknya pulang dan dia kembali lagi ke jembatan itu.
            Putri mengamati beberapa fenomena yang terjadi. Banyak anak – anak yang berjuang, mekera mampu melewati halang rintang dengan memohon bantuan kepada Yang Kuasa. Putri tertegun melihat mereka semua dan ingin seperti mereka yang berjuang keras demi sebuah ilmu dan cita – cita. Namun, tak lama kemudian..
            Kraaak.. kraaakk... bbbbrrrrgggg...
            “Oh tidak! Jembatanku!! Runtuh!!”, ternyata jembatan yang biasa dia lewati runtuh dan dia segera mencari bantuan ke warga untuk membenarkan jembatan itu.
            Karena desa yang begitu krisis ekonomi membuat Putri akhirnya pun ikut membantu. Putri teringat lagi dengan kalimat “lengan bajumu singsingkan untuk negara, cinta budaya Karakter Penerus Bangsa!” dengan penuh keyakinan Putri menyingsingkan lengan bajunya dan turun tangan ikut membantu warga membenarkan jembatan. Walaupun dia adalah seorang remaja perempuan.
            Satu hari penuh warga membenarkan jembatan itu. Akhirnya pun selesai juga. Putri yang merasa lelah akhirnya kembali ke rumahnya.
            “Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini petunjuk-Mu”, dalam doanya dia lanturkankan kalimat itu. Apa maksud dari kalimat itu yah? Ups!
***
            Putri anak yang berbakat itu pada suatu hari ditunjuk oleh sekolah untuk mewakili sekolah di tingkat kabupaten dalam lomba tari dan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika.
            “hahahaha... kamu nari? Hari gini masih nari tradisional? Apa kata dunia?” dengan di oloknya Putri oleh teman – temannya.
            “Justru di jaman inilah kita harus mampu mengembangkan budaya kita, budaya bangsa, budaya Indonesia. Aku tidak malu akan ini. Aku malah merasa terhormat. Bagiku ini adalah anugerah dari Yang Kuasa. Aku cinta budaya Indonesia.” , dengan senyum dan santai Putri menjawab itu kepada teman – temannya.
            Setelah mengikuti lomba tersebut pada keesokan harinya, ternyata Putri mendapatkan nomer satu dan dia mewakili kecamatan untuk lomba tari dan OSN Fisika itu. Hari demi hari berlalu, Putri belajar keras dengan serius. Di dalam batinnya, “Aku harus bisa! Aku harus membanggakan kedua orang tua, saudara, guru, teman, nusa dan bangsa.” Dengan keyakinan yang besar, diapun mendapatkan peringkat satu lagi dan maju ke tingkat nasional. Di situlah Putri mulai membuktikan bahwa orang dari desa kecilpun mampu untuk menjadi nomor satu.
            “Peringkat satu dan sekaligus menjadi juara nasional OSN Fisika adalah Nila Eka Putri dari SMA 1 Cilacap!!”
            Mendengar pengumuman itu Putri langsung dipeluk oleh gurunya dan Putripun menangis terharu. Saat maju di depan umum Putri meneteskan air mata dengan senyuman manisnya dan ia mengangkat piala kebanggaan itu. Guru yang mendampingi Putri sampai terkagum – kagum pada sosok gadis cilik usia 14 tahun itu.
            Dibawa pulang piala itu dan dia tunjukan kepada adik – adiknya dan kedua orang tuanya. Orang tua Putri bangga dengan dia karena ketekunannya.
            “Wahh.. kak Putri hebat! Aku jadi mau seperti kakak.”
            “Nah, kalau adik mau seperti kakak adik harus semangat, pantang menyerah, rajin belajar, sholat 5 waktu, dan yang terpenting adalah berdoa dan berusaha. Jangan malu juga. Abaikan kalau teman – teman kalian mengolok – olok kalian.”
            “Iya kakak, kami berjanji akan seperti itu.”
            Putri yang menasihati kedua adiknya membuat kedua orang tuanya tersenyum dan tidak lagi bertengkar karena kesuksesan Putri itu.
            “Ayah, Ibu, Putri minta doa restunya lagi yah? Putri besok mau berangkat lagi untuk lomba tari dan OSN Fisika di tingkat dunia atau Internasional. Semoga lancar ya bu, yah...”
            “Iya Putri, semangat ya nak? Jaga kesehatanmu disana. Karena kamu akan jauh dari kami.”, suasana yang mengharukan membuat hati kedua orang tuanya tenang. Dan adik – adik Putripun memeluk Putri.
***
            Esok hari tiba, dan Putri harus bersiap untuk melaksanakan lomba tari dan OSN Fisika. Setelah beberapa jam lamanya. Akhirnya pengumuman pun tiba. Putri yang duduk bersebelahan dengan guru pendampingnya dan dia masih berpakaian tari. Ternyata, di umumkan bahwa Putri menjadi juara 1 OSN Fisika sekaligus membawakan budaya Indonesia ke Internasional. Putri sangat bangga dan menangis deras. Guru yang mendampinginya sampai tak karuan mendengar dan melihat sendiri anak didiknya yang berbakat itu.
            Pulang dari lomba tari dan OSN Fisika yang di adakan di luar negeri itu, di Indonesia Putri disambut dengan meriah sekali. Dan disini Putri berpidato yang berisi bahwa,
            kami adalah anak desa. Tetapi kami mempunyai kemampuan yang tidak kalah seperti anak kota. Kami tidak malu membawakan budaya kami karena kami cinta budaya Indonesia. kami selalu ingat dengan pesan guru kami. Lengan bajumu singsingkan untuk negara, cinta budaya Karakter Penerus Bangsa! Inilah pesan guru kami. Kami buktikan di sana bahwa Indonesia mempunyai Karakter Penerus Bangsa yang luar biasa. Kami siswa – siswi SMA 1 Cilacap berterimakasih atas dukungan semuanya.
            Semua orang yang mendengarkan bertepuk tangan dan menangis terharu. Di beri penghargaanlah Putri oleh Prresiden Republik Indoneisa. Putri pulang ke rumah dan kini teman – teman Putri tidak lagi mengolok – oloknya. Malah meminta maaf kepada Putri. Kini, semua orang dapat mengerti apa itu yang dimaksud Karakter Penerus Bangsa. Karena kerja keras Putri, desa Putri dibantu oleh pemerintah dan kini jembatan yang menuju masa depan itu menjadi jembatan emas yang kokoh dan tidak membahayakan lagi. Dan sekarang, karena berkat Putri, sekolah Putri SMA 1 Cilacap menjadi sekolah favorit dan berkarakter.
            Kini, Putri dan adik – adiknya tidak lagi bingung akan biaya untuk sekolah. Karena Putri beserta adik – adiknya di biayai oleh pemerintah sampai lulus perguruan tinggi. Selain itu, Putri membawa harum nama Indonesia ke dunia Internasional. Jiwa nasionalisme Putri benar – benar harus di kembangkan. Usaha Putri selama ini tidak sia – sia untuk membantu meringankan ekonomi keluarganya.
***


-TAMAT-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisiku

Drama bahasa Jawa

Puisiku